Header Ads


Benarkah Meminum Antibiotik Harus Sampai Habis? Berikut Penjelasannya!



Majalahqqhoki - Saat diserang sakit yang membandel, seringkali dokter meresepkan antibiotik untuk pasiennya. Memang sih, dengan minum obat antibiotik, akan lebih cepat menyembuhkan penyakit yang diderita.

Bahkan, seringkali antibiotik belum habis, kita sudah berhenti mengkonsumsinya. Padahal sesuai saran dokter, antibiotik harus diminum habis sesuai resep. Apakah benar begitu? Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini ulasannya!


1. Dokter menyarankan agar antibiotik dihabiskan

Dokter menyarankan agar pasien menghabiskan antibiotik sesuai resep sekalipun pasien sudah merasa sehat. Alasan yang dikemukakan salah satunya adalah dengan mengkonsumsi sesuai jangka waktu yang disarankan, supaya pasien tidak "kebal" atau adanya risiko perkembangan resistensi terhadap antibiotik yang sama jika dikonsumsi di kemudian hari.

Tetapi, sebuah studi yang dimuat oleh Medical Daily justru menyatakan kebalikannya. Belum ditemukan dasar pembuktian yang kuat soal pengoptimalan durasi terapi antibiotik hingga saat ini. Ingat ya, yang belum ditemukan adalah metode pengoptimalan durasi minum antibiotik, bukan berarti oke saja jika diminum tanpa dihabiskan.


2. Antibiotik mudah ditoleransi tubuh dengan baik

Kebanyakan antibiotik, seperti penisilin, sebetulnya mudah ditoleransi tubuh dengan baik. Efek sampingnya jarang terjadi ataupun terjadi dalam skala kecil, misalnya diare dan alergi. Jadi antibiotik tipe seperti ini sebetulnya dapat diberikan dalam dosis kecil dan jangka waktu yang pendek.

Dilansir dari hellosehat.com, kamu hanya bisa berhenti meminum antibiotik di tengah jalan jika memang ada anjuran dari oleh dokter. Di beberapa kasus, dokter bisa menyarankanmu untuk berhenti mengonsumsi antibiotik ketika sudah merasa baikan untuk beberapa penyakit, misalnya: nyeri dada atau infeksi saluran kencing

Namun, World Health Organization (WHO) mengimbau bahwa jika penyakit yang kamu derita masih bisa disembuhkan tanpa antibiotik, sebaiknya hindari konsumsi obat antibiotik. Selain itu, perlu untuk terus menaati aturan yang diberikan dokter, ini yang paling penting. Karena telah ada ratusan ribu kematian di seluruh dunia yang disebabkan, "hanya" karena bakteri yang menjadi "kebal".


3. Bagaimana dengan "efek kebal" yang dikhawatirkan?

Kalau kamu berhenti minum antibiotik sebelum waktu yang ditetapkan oleh dokter, menurut WHO, kamu berisiko mengalami resistensi antibiotik. Meskipun gejala penyakit yang kamu alami sudah jauh berkurang atau hilang, mungkin saja bakterinya belum mati sepenuhnya. Nah, mereka bisa mengalami mutasi lho.

Perkembangan resistensi atau efek kebal didasarkan pada asumsi implisit bahwa efek kebal disebabkan paparan zat-zat yang terkandung dalam antibiotik, yang meningkatkan level resistensi dalam tubuh. Tetapi rupanya hal ini hanya ditemukan saat percobaan di laboratorium, belum ada bukti yang menunjukkan pengaruhnya secara klinis. Atau sebagaimana yang disebutkan, belum ada parameter efektif yang paten untuk menentukan jumlah antibiotik, yang cocok dengan jenis bakteri yang spesifik.

Anggap saja begini, antibiotik yang diberikan menggunakan resep dokter bisa dipastikan jumlah dan tata cara meminumnya sudah sesuai dengan aturan. Karena memang mereka ahlinya dan lebih mengerti tentang hal ini, mengingat bahwa mereka memang belajar serta berprofesi di bidang kesehatan ini. Antibiotik harus diberikan dalam jumlah tertentu dan dalam waktu tertentu juga, demi mendapatkan manfaat yang maksimal.

Ya, antibiotik harus dikonsumsi dan dibeli menggunakan resep dokter. Meskipun kita belum bisa mengetahui pasti durasi pengobatan dengan antibiotik (yang biasanya 5-14 hari), tetapi setidaknya kita memiliki pengalaman dan bukti bahwa antibiotik aman dan efektif melawan penyakit; sekalipun ada risiko diare, alergi bahkan obesitas karenanya. Minum sesuai aturan dan anjuran dokter ya, jangan bandel!





Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.