Header Ads


Usai Diperintah Duterte, Pasukan Filipina Tewaskan 11 Militan Abu Sayyaf

Usai Diperintah Duterte, Pasukan Filipina Tewaskan 11 Militan Abu Sayyaf

Manila, Mancanegara - Pasukan komando Filipina menewaskan 11 anggota kelompok militan Abu Sayyaf dalam pertempuran di Pulau Jolo, Filipina selatan.

Juru bicara militer Filipina, Mayor Filemon Tan mengatakan seperti dilansir media Press TV, Sabtu (27/8/2016), pasukan Filipina terlibat baku tembak dengan hampir 100 militan Abu Sayyaf di kawasan hutan di Jolo pada Jumat, 26 Agustus waktu setempat. Pertempuran itu berlangsung sekitar 45 menit. Puluhan militan Abu Sayyaf juga luka-luka dalam kontak senjata itu.

Dikatakan Tan, 17 tentara Filipina terluka dalam pertempuran itu. Baku tembak ini terjadi menyusul perintah Presiden Rodrigo Duterte untuk menghancurkan kelompok penculik yang dikenal kerap meminta uang tebusan itu.

"Misinya jelas. Cari dan hancurkan Abu Sayyaf," ujar Tan. "Tentu saja, itulah yang kami lakukan dan kami tak akan berhenti sebelum itu terlaksana," imbuhnya.

Selain menculik, Abu Sayyaf juga dikenal telah beberapa kali melakukan pemenggalan sandera. Kelompok radikal yang didirikan pada tahun 1991 di Pulau Basilan, Filipina selatan itu, bertekad untuk melancarkan perang terhadap pemerintah Filipina.

Menurut Tan, kelompok Abu Sayyaf saat ini masih menyandera sekitar 20 orang, termasuk delapan warga Indonesia, lima warga Malaysia, seorang warga Norwegia dan seorang warga Belanda.

Sebelumnya, Presiden Duterte telah memerintahkan militer segera menghancurkan kelompok Abu Sayyaf. Seruan ini disampaikan usai kelompok itu dilaporkan memenggal seorang warga Filipina yang mereka sandera.

"Bunuh musuh-musuh negara," tegas Duterte kepada personel militer Filipina sebelum mengirimkan mereka ke Sulu untuk memerangi Abu Sayyaf, seperti dilansir media lokal, The Philippine Star, Jumat (26/8/2016).

Angkatan Bersenjata Filipina telah memerintahkan pengerahan dan pengiriman tentara tambahan ke Sulu dan Basilan, dalam operasi memburu Abu Sayyaf. Duterte pun melakukan kunjungan mendadak pada Rabu (24/8) malam, untuk memberi dukungan moral kepada tentara yang akan bertugas.

Dalam pernyataannya, Duterte mengaku dirinya marah besar saat tahu satu sandera asal Filipina dipenggal Abu Sayyaf. Sandera yang dipenggal itu bernama Patrick Almodovar, yang berusia 18 tahun dan berasal dari Jolo, Sulu. Almodovar yang juga diketahui sebagai anak laki-laki dari seorang juru ketik pengadilan setempat ini, diculik Abu Sayyaf sejak 16 Juli lalu, di luar rumahnya. (hen)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.